DISCLAIMER: Apa yang akan teman-teman baca di sini semuanya merupakan hasil belajar, ringkasan yang kata-katanya telah disederhanakan dari ustadz atau ulama-ulama yang memang punya background di ilmu ini.

Life after life.. Hmmm pembahasan yang menarik. Ternyata ada kehidupan setelah kehidupan. Well iya.. mungkin sebagai muslim kita paham abis kalau setelah ini ‘kita bakal pindah tempat’ tapi beneran deh! Nyatanya banyak banget dari kita yang perilaku serta gaya hidupnya itu gak mencerminkan ‘berbekal’ buat ‘perpindahan’ tersebut. Kadang tuh kita udah belok, eh malah ngejauhin bahas yang kaya gini dengan alasan, “Ah jangan bahas-bahas alam kubur! Ah serem banget bahas neraka! Jangan ngomongin kiamat!”
Kenapa emang? Terus-terusan jauhin topik kaya gini biar gak pernah kebayang balasannya kalau lagi ‘enaknya’ maksiat?”

So di sini kita akan coba melembutkan hati, membahas, mengambil pelajaran, hikmah dan nasihat dari surah Al-A’raf ayat 46-51. Sebelum kita bahas lebih lanjut, ada dua hal yang perlu kita bahas terlebih dahulu.

Pertama, kita review perjalanan kita dulu..

Sekarang tinggal di mana? Di bumi. Apakah selamanya akan di bumi? Enggak. Semua orang tau, bahkan yang gak punya agama pun juga percaya bahwa tiap-tiap kita pasti mati.

Soo.. apakah nanti kita akan ’berpindah tempat?’
Iya.

Oke teman-teman perhatikan baik-baik. Liat gambar yang paling ujung di gambar. Kata Akhirat yang dilingkari.. Itu di ujung. Kalau ada sesuatu yang di ujung, gak ada yang lain lagi, gak ada lagi ruangan, gak ada lagi sekat, kalau udah terakhir, maka kata ‘akhir’ dalam bahasa Arab di tambahin ta ujungnya, jadi akhirat.

So, aku ulangi. Kenapa disebut akhirat?
Karena ia tempat yang paling ‘akhir’. Paling ujung yang abis ini udah gak akan ada tempat apa-apa lagi. Kehidupan terakhir ya kehidupan di akhirat.

Sekarang pertanyaanya, Semakin hari.. Semakin bertambahnya umur, kita itu makin jauh dari perpindahan tempat, atau malah makin deket?

Ok. Setuju yaa kita makin deket.

Selanjutnyaa… Yang kedua, kita harus pahami kualitas.

Akhirat itu tempat yang berkualitas dan hebat. Biar gampang dicerna gini. Kamu kalau beli HP, baru pakai sebulan eh terus nge-hang, cepet panas, lemot. Nah berkualitas gak tuh hape? Enggak. Kualitasnya jelek…  Kenapa? Karena cuma SEBENTAR daya kerjanya. Contoh lain, laptop. Baru pake seminggu buat ngetik, dibuat main games, eh layarnya bergaris-garis. Keyboardnya pada copot. Bagus gak? ENGGAK! Berkualitas gak? Enggak.

So kenapa kita sering sebut jelek?
Karena dia gak bertahan lama. Cuma sebentarS-E-M-E-N-T-A-R-A dan gak abadi.

Nah akhirat itu alam yang berkualitas, yang hebat, karena dia yang paling abadi. Makanya di Ad-Duha (وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَىٰ ) — Dan akhirat itu lebih baik bagimu dari yang permulaan (dunia). Jadi akhirat itu Worth it banget buat diperjuangin, karena emang se-berkualitas-itu.

Jadi, kalau ‘kaya’ di akhirat, ya bakal kaya selamanya. Kalau hidup enak, hidup level sultan disana, selamanya bakal kaya gitu. Bahagia juga, akan bahagia selamanya. Begitu pula berpasangan. Kalau di dunia kan misal kita berpasangan nih, eh tiba-tiba di tengah umur pernikahan ada pelakor. Tiba-tiba suami dipanggil Allah, istri dipanggil Allah, adaaaaaa aja gitu perpisahannya. Nah di akhirat gak gitu. Kalau berpasangan yaa selamanya. Apa? S-E-L-A-M-A-N-Y-A.

Sebaliknya, kalau kamu terkenal di dunia, kumpulin harta setinggi gunung Everest, gakkan NGEFEK juga! Di dunia tuh bentar doang. Aku seumur-umur gak pernah sih lihat orang minta kuburannya seluas rumahnya yang 2 hektar. Di San Diego Hills juga gak ada yang kaya gitu. Atau misal minta ke penggali kubur, ”Mas nanti kalau saya meninggal, Ferari saya ikut masukin ya”. Gak ada!

Demi Allah! Semua ditinggal. Orang yang dia sayang ditinggal. Subscribers semua ditinggal. Makanya orang mati disebut telah meninggal dunia, karena dia bener-bener ninggalin dunia dan apapun yang ada di dalamnya.

Misal kita punya banyak followers atau murid, terus kita meninggal nih, nah orang-orang palingan sedihin kita cuma sehari dua hari. Subscribers turut berduka cita sehari dua hari sama kita. Abis itu DITINGGAL dan DILUPAKAN. Sekejap itu umur dunia. Tapi nyatanya banyak orang-orang yang ketipu, salah ngejar. Ngejar yang konkrit, ngejar yang sebentar, dan ngebuang jauh-jauh kebelakang fakta permanennya kehidupan dia yang selanjutnya.

Nah masalahnya.. Akhirat cuma punya dua tempat. Neraka sama surga. Kalau neraka, neraka selamanya, kalau surga, surga selamanya… kecuali siapa yang Allah kehendaki. Neraka buat yang punya banyak amal SALAH, surga buat yang punya banyak amal SALEH.

Next, pas yaumul hisab, misal ditimbang nih…

Amal baiknya seberat 50.00001. Cuma lebih 0.1. Nah karena tetep berat yang kanan, maka dia aman. Masuk surga. Lalu ada yang ditimbang, amal baiknya 49.99999. Cuma kurang 0.1. Karena lebih berat yang kiri, maka dia gawat. Masuk Neraka.

Terus gimana yang perbandingan amalnya 50: 50 ?

Jawabanya ada di Al-A’raaf ayat 46.

..وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ ۚ
Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada tabir; dan di atas A’raaf (tempat yang tertinggi) ada orang-orang yang mengenal masing-masing dengan tanda-tanda mereka…

7: 46

Orang-orang itu nunggu di A’raf. Tempat yang tinggi. Tempat yang terletak di antara surga dan neraka. Tempat buat orang-orang yang belum mencapai keputusan tempatnya bakalan dimana. Deg-degan bangeeeett.. Ibarat Zoom tuh waiting room. Belum di accept masuk ke room mana.

Nah a’raf dari akar kata ‘Urf. Artinya ada beberapa.

Yang pertama, a’raf adalah tempat yang tinggi.Nah karena ini kan ‘hijab’ atau penghalang. ada juga tafsir yang bilang mereka di atas tembok penghalang itu. Kata Al-A’raf yang bermakna ini ada di ayat 46 dan 48 surah ini.

Jadi karena tinggi, orang-orang disana punya pemandangan yang luas. Ibarat kaya kamu hiking terus sampai di atas gunung. Nah disana kan bisa ngeliat segalanya lebih jelas dari atas seperti rumah warga atau penghuni di bawahnya. Jadi orang-orang ini kaya punya helicopter look. Ngeliat sesuatu kaya dari drone. Di atas. Karena tempat ini terletak di antara surga dan neraka, mereka dapet satu keuntungan yaitu ngeliat pemandangan surga dan neraka.

Kalau udah kaya gitu, misal nih kamu punya pemandangan surga dan neraka, maunya ngadep kemana? Ke pemandangan yang mana? Pasti surga kan? Iya karena ada dua alasan: Satu, karena begitu menakutkannya pemandangan itu, “Itu neraka gila lo! Mana berani gua! Jangankan ngeliat, denger jeritannya aja gue gaaa sanggup. lemeeesss!” Kedua, “Ini surga, man. Siapa yang gak demen ngeliatin???”

Yang kedua, kata a’raf ini juga ternyata satu akar kata dengan Ta’aruf. Pernah denger kata Ta’aruf kan? ‘arafa – Ya’rifu kata kerja yang artinya mengenali. Nah itu satu akar kata.

Dengan kata lain, orang-orang A’raf ini juga bisa ‘arafa (mengenali) orang-orang yang mereka lihat dari tanda-tandanya Ya’rifuuna kullu bisiimahum. Yang item gosong tuh penghuni Neraka. Yang bersinar-sinar penghuni surga. “Nah itu orang sini tuh. Itu orang sana tuh!” Mereka mengenali orang dari dua kubu.

وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَن سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ…
… Dan mereka menyeru penghuni surga: “Salaamun’alaikum” (salam sejahtera bagimu). Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).

7: 46

Begitu ngadep ke penghuni surga, mereka ngasih salam, “Eh salamunalaykum!” pas mereka ngenalin lagiiii “Oiii salamun alaykum!” Mereka belum masuk kubu mana-mana. Terus sangat-sangat besar keinginan mereka buat segera masuk kesana, “Ya Allah.. Saya pengen cepet-cepet masuk kesitu ya Allah.. nikmatnya luaaarrrr biasa!!!!!!” يَطْمَعُونَ.. Mendalaaam sekali keinginannya, cinta yang membara untuk ada disana. Tam’asomething that stays in you for a long time, that you really really want it.

وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ 
Dan apabila pandangan mereka dialihkan kearah penghuni neraka…

7: 47

Kata صُرِفَتْ itu bentuk pasif dari shorofa. Menghadap. Beralih. Nah disini صُرِفَتْ. Dihadapkan. Apanya? أَبْصَارُهُمْ. Pandangannya. Maksudnya, mereka gak ngalihin pandangannya sendiri. Mereka dibikin ngadep kesana. Dihadapkan ke realita neraka. Kenapa? Karena mereka kan gak mau liat neraka pake matanya. Ibaratnya dikasih tau, “Oh enggak. Kamu perlu ngeliat ini juga!”

Bahkan تِلْقَاءَ – Sempurna ke arah itu. Bahkan disini bukan ila ashabin nar (ke penghuni Neraka). Tapi تِلْقَاءَ yang artinya menemui, mempunyai kontak penuh sama orang itu. Jadi dapet GOOD FULL VIEW of HELLFIRE.

Nah kira-kira orang a’raf ini ngomong apa ke mereka? Kalau ke penghuni surga tadi kan, Salamunalaykum. Nah kalau ke neraka, gimana? Salamunalaykum juga? Gak masuk akal lah! Salam itu artinya apa? Kedamaian. Itu doa. Kalau ke penghuni surga mah emang berhak disalamin. Mereka bener-bener ngeliat orang itu ada dalam kondisi kedamaian yang sempurna. Nah yang di neraka?

These people WERE NOT in peace.

Mereka juga ngomongnya salaamunalaykum, bukan assalamualaykum. Yang kurang lebih “Betapa besar kedamaian yang dilimpahkan padamu”, “Betapa kerennya tempat yang kamu masuki!”.

Lanjut.. Pas orang A’raf ini ngedenger jeritan mereka, penghuni Neraka, BERGETAAARRRRR jiwanya. Gak berani ngeliat. Ngelirik aja gak berani. Biar kebayang gini, kamu pulang dari nongkrong jam 2 malem lewat jalanan sepi. Eh terus ada yang ketawa dari atas pohon “Hihihiiiii”.. berani nengok gak? Enggak kan? Ngelirik aja gak berani. Atau mungkin uji nyali iya nengok, tapi abis itu lari kan? Gak mau deket-deket. NAAH yang begitu aja kita gak mau liat APALAGI YANG DI AKHIRAT! Gak berani liat mereka… uuuuu takutnya bukan maen.

Nah ya tapi mau gak mau mereka akhirnya dihadapkan juga ke penghuni neraka FULL VIEW, FULL CONTACT. Tapi mereka gak mau ngomong apa-apa kaya ke penghuni surga tadi. Ngerasa berdosa juga kan. Jadi mereka berdoa aja sama Allah:

قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
… mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang zalim itu”. 

7: 47

Terus di ayat selanjutnya, orang-orang yang di atas itu ketika mereka mengenali para penghuni neraka dari tanda-tandanya, mereka menimpali – kaya dijulid-in gitu..

وَنَادَىٰ أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُم بِسِيمَاهُمْ قَالُوا مَا أَغْنَىٰ عَنكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ
Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang yang mereka kenal dengan tanda-tandanya sambil berkata, “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, (ternyata) tidak ada manfaatnya buat kamu.” 

7:48

أَهَـٰؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللَّـهُ بِرَحْمَةٍ ۚ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَا أَنتُمْ تَحْزَنُونَ
(Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?”. (Allah berfirman): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati”. 

7: 49

Disini ada kata أَهَـٰؤُلَاءِ – sangat menarik. أَهَـٰؤُلَاءِ artinya ‘ini’, untuk menunjuk yang dekat. Kan kalau di Quran ada kata أُولَـٰئِكَ artinya ‘itu’ untuk menunjuk yang jauh. Ayat ini menyiratkan, orang a’raf itu deket ke surga, deket juga ke neraka. Sekarang mereka ngomong ke penghuni neraka sambil nunjuk ke orang-orang penghuni surga. “Inikah orang-orang yang dulunya kamu sumpahin gak akan dapet rahmat Allah?” Come on. Who are you kidding?

نَادَىٰ أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّـهُ ۚ قَالُوا إِنَّ اللَّـهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ 
Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: ”Tuangkanlah (sedikit) air pada kami atau rezeki apa saja yang telah dikaruniakan Allah kepadamu”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir,”

7: 50

Nah ini ada percakapan yang direkam dalam Al Quran, antara penghuni surga dan penghuni neraka. Kata أَفِيضُوا kalau di terjemahan ‘Tuangkanlah’. Tapi sebenarnya أَفِيضُوا tuh ‘dikit’. Jadi kata lainnya itu, ‘cucurin dikiit aja’. Bentuk lain turunan kata ini seperti tafiidu yang cuma ada dua di Al Quran, itu dua-duanya ada di konteks air mata. Al-Maidah ayat 83 dan At-Taubah ayat 92. Kalau di At-Taubah, mereka yang gak bisa perang bareng Rasulullah sedih banget sampe bercucuran air mata. Nah air mata itu kan dikit ya. SETETES. Dengan kata lain, “Kasih beberapa tetes air ke kami! Gak perlu satu gelas. Sisaan juga gapapa! 

أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّـهُ
“Atau apa kek yang Allah limpahin ke kamu. Kan banyak tuh!”

Mereka jawab إِنَّ اللَّـهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِين. Kalau Bahasa kitanya, “I’m sorry. I can’t help. Allah bikin ini haram buat mereka yang mata hatinya tertutup di dunia…” Yang kaya gimana tuh?

لَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۚ فَالْيَوْمَ نَنسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَـٰذَا وَمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ 
(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.

7: 51

NAH INI YANG JLEB! Mereka yang jadiin agamanya entertainment. Mereka yang nge-joke pake ajaran Islam.

Dan kehidupan dunia telah menipu mereka. Sering banget di Quran, kata-kata kaya gini. Dan kehidupan dunia telah menipu mereka. Misal di Al Hadid juga ada. Serem banget. Gak percaya? Lihat aja sekarang keluar. Banyak orang yang salah prioritas. Prioritasin nafsu dan kepentingan makhluk daripada aturan Sang Khaliq. Karena sering diulang2, maka penting banget buat dipahami. Manusia itu kan punya macem-macem aspirasi. Aspirasi untuk karir, aspirasi untuk pendidikan, keuangan, sosial, kesehatan, pengen punya rumah sendiri, aspirasi punya pasangan yang ideal, kita punya semua aspirasi ini dalam kehidupan. Agama kita mengajarkan kita bahwa aspirasi ini bagus kalau itu diminimalkan dan aspirasi utama di hidup kita itu untuk sukses di kehidupan selanjutnya. Atau mungkin bisa juga, gak apa asal semua yang kita punya itu selalu dapat mendekatkan dan membuat kita sukses di kehidupan yang selanjutnya. Karena kalau gak gitu, kalau itu jadi satu-satunya yang kamu cari, maka pasti kamu ketipu. Your goals and motive are in the wrong place.

So… Gimana nasib orang 50:50 itu?

Jadi… Pas hisabnya dah selesai mereka masuk mana? Misal nih, hisab 1 hari lamanya. Nah mereka akan nunggu di situ selama 1000 tahun menurut perhitungan kita, sampai hisabnya selesai. Terus baru deh, mereka masuk surga.

Tapi balik lagi. Walaupun kita komen ‘wah enak ya masuk surga juga’. Iya tapi mereka sebelum masuk sana perlu harus nunggu dulu sampai seluruuuuhhh manusia hisabnya selesai. Ke –hold. Emang ‘menunggu’ itu enak?

Sooo… sebelum kita ‘berpindah tempat’, banyaklah mengingat dosa-dosa kita, segala kesalahan kita, kebodohan kita, prasangka buruk kita, bahkan terhadap Allah dan kebijaksanaannya. Istighfar sebelum lisan ini dibuat kaku menyebut asma-Nya, yaitu ketika nyawa di ambang kerongkongan. Lakukan sebelum semuanya terlambat. Banyak-banyaklah menangis. Bukan tertawa. Kalau gak bisa nangis sekarang, besok, kalau gak bisa besoknya lagi. Terus, dan terus seperti itu. Kalau gak bisa juga, tangisi sekotor itu mata kita sampai-sampai gak mampu menangisi dosa.

Semoga kita termasuk orang-orang baik, yang punya kesempatan memperbaiki diri.
Amin.

close

Mau dapet Personalized Quranic Reflection langsung dari penulis ke Emailmu?

Yuk Gabung! 😎

Udah ada 1000+ Milenial Indonesia + Malaysia nih yang gabung! Masa iya kamu rela gak ikutan!

Jangan Shalih Sendirian. SHARE:

One thought on “Life After Life #Edisi-Al-A’raaf

Comments are closed.

Next Post

Ketika Setan OPEN MIMBAR di Akhirat!

Sun Sep 13 , 2020
Sadar ngga sih, kalo tiap hari kita selalu berperang dengan bisikan syaitan? Baru bangun tidur ajaa.. kita udah dihadapkan dengan sederet pilihan-pilihan. Mau ngelakuin A […]