Ceritanya mungkin udah berulang kali kita baca di setiap al Kahfian Jumat, tapi gak pernah kepikiran bahwa ternyata.. sepotong kisah antara Nabi Musa dan orang shaleh ini bisa nyimpen banyaak banget hikmah dan pelajaran berharganya.

Semoga mampirnya kamu di sini, bisa bikin beberapa ayat Al Kahfimu lebih ngefeel lagi…
Inilah beberapa ayat beserta hikmah singkatnya yang mungkin –sementara ini– bisa kita ekstrak. Kalau kamu ada tambahan, feel free tambahin di kolom komen ya.. 🙂

1. bahwa BELAJAR itu WAJIB BANGET SABAR!

Dan ketika Musa berkata kepada pembantunya (Yusha): “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”. (QS. 18: 60)

Ayat ini tuh ngejelasin perjalanannya Nabi Musa dalam menuntut ilmu.

Liat deh.. buat upgrade ilmu aja, beliau rela melalui perjalanan panjang, sekalipun itu perjalanan yang sulit. Beliau mau banget berpergian jauh cuma demi menuntut ilmu. Beliau bahkan bilang “aku gakkan berhenti” yang nunjukkin semangatnya yang membara. Juga “aku akan berjalan sampai BERTAHUN-TAHUN!!!” yang ngajarin ke kita semua, bahwa kadang proses belajar itu penuh kesulitan dan perlu menderita dulu. Makanya dalam proses berlangsungnya, perlu banget SABAR.

Dan sebagai murid, قَالَ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا  (Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar…) → kita ga perlu buru-buru buat ngedapetin hasil. Sabar aja. Semua akan ada waktunya.

2. Belajar Sama Yang Statusnya Lebih Rendah, itu Engga Salah!

Lalu mereka (Nabi Musa dan Yusha) bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. (QS. 18: 65)

Yang dimaksud ‘seorang hamba di antara hamba-hamba Kami’ ialah Khidr. Liat deh gimana Quran ngelabelin beliau.

Walaupun ada yang bilang Khidr itu Nabi, tapi di sini yang tersebutkan hanyalah ”Hamba Yang Shaleh”.

Ayat ini ngajarin kita, bahwa… bukan ga mungkin orang yang lebih baik belajar dari seseorang yang lebih rendah statusnya.

Maksudnya siapa yang lebih baik?
Tentu Nabi Musa 🙂

Nabi Musa alaihissalam itu seorang Nabi + seorang Rasul di antara Rasul-Rasul ulul azmi + seorang Kaliimullah (yang pernah berbicara langsung sama Allah). Namanya pun jauh lebih banyak disebut di surah-surah Quran.

Tapi beliau mau rendah hati belajar dari seseorang yang secara status lebih rendah dari beliau. Dan ini refleksi banget buat kita. Karena kadang, kita tuh terlalu sibuk memilih dan meragukan seorang guru. Kalau gurunya masih muda, kalau gurunya cuma lulusan lokal, kalau gurunya ga punya pendidikan formal, kalau gurunya ga terkenal, kalau gurunya ga punya gelar bergengsi, kalau gurunya cuma temen di satu kelas kursus yang sama, kalau tampilan gurunya begini dan begitu dsb kita tuh suka gamau. Terlalu gengsi.

Tapi coba deh kita liat Nabi Musa. Seorang kek beliau ga gengsi lhoh beliau belajar dari sosok yang mungkin ga dikenal dunia, bahkan Quran aja nutupin namanya.

So hal ini bukan ga mungkin seseorang yang lebih baik, belajar dari yang lebih rendah statusnya. Karena di Quran ada yang kayak gini 🙂

3. bahwa BERTANYA ke GURU harus SANTUN

…هَلْ أَتَّبِعُكَ  
Musa bertanya kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu…

(QS: 18: 66)

Liat deh..
Beliau tu nanyanya dengan rendah hati. Padahal kan… nabi Musa dikenal dengan kekuatannya yaa. Yaaa gimana engga? Sekali tonjok aja, orang bisa kreek.. mati.

Apalagiiii.. ngeliat statusnya beliau yang “Rasul ulul azmi” sekaligus “Kalimullah”. Bisa aja kan yaa punya gengsi atau gila hormat kek orang zaman sekarang…. Tapi dalam bertutur (dengan guru), beliau memilih sopan dan santun. Dengan rendah hati, beliau malah minta izin, “Bolehkah aku mengikutimu…..” seakan-akan beliaulah yang statusnya lebih rendah.

Terus terus..
nanyanya dengan hal attabi’uka lagi,, bukan hal atba’uk. Apa bedanya?

Yang pertama, ada tambahan tasydid di huruf ta, yang nunjukkin keinginan besar / kuat buat ngikutin. Kek…Bersemangat banget gitu buat nuntut ilmu. Ada keteguhan dan kegigihan tersirat di kata itu. Bukan cuma “yeaaa yawda laaa jalan bareng aja. Kali aja gua dapet hikmah ngikutin elu!” Bukan! Apalagi lanjutannya:

عَلَىٰ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا…
…. Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” 
(QS. 18: 66)

Di sini Nabi Musa pen ikut bukan biar, “yaa biar gue dapet manfaat aja sih dari jalan bareng” atau “yaudah nanti gw nontonin aja deh, terus tar nyatet2 dan nyimpulin sendiri” Bukan! Tapi:

“Biar kamu bisa NGAJARIN aku“.

Jadi beliau tuh pengen Khidr ini jadi mentornya. Jadi gurunya langsung. Seolah beliau bilang, “Aku nih ga punya ilmunya, kamu ajarin aku ya. Kita jadi murid dan guru ya 🙂” Beliau nyadar bahwa dengan ngikutin doang, beliau mungkin gakkan bisa belajar. Tapi proses belajar itu sejatinya butuh guru yang menjelaskan, memaparkan dan mengklarifikasi.

MasyaAllah.. begitulah gambaran sebuah kerendah hatian, yaitu menempatkan diri kita pada posisi seorang murid. Kita perlu menunjukkan kerendahan hati di depan para ulama kita.. Di depan siapa kita belajar.

4. Niatnya ‘MURNI

عَلَىٰ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
…. Supaya
kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” 
(QS. 18: 66)

Masih di ayat yang sama. Kamu perhatiin ga ayat Arabnya yang ditebelin?

Untuk mengartikan ‘Supaya’, disitu ada kata عَلَىٰ. Kamu tau? Dalam bahasa Arab, kata “supaya” tuh bisa dengan كَيْ atau لِ. Tapi disini pakenya عَلَىٰ yang mengindikasiin syarat. Bahwa semua yang diinginkan Nabi Musa dari ngikutin Khidr ialah cuma biar diajarin. Tujuan utamanya udah itu doang.

Jadi Nabi Musa punya niat Ikhlas (MURNI) dalam menuntut ilmu. Bukan buat yang lain, kayak pencitraan di mata kaumnya, uang, kenaikan jabatan ataupun ketenaran. Ya Rabb…

5. Warning di Awal

قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَن شَيْءٍ حَتَّىٰ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا 
Khidr berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”.  (QS. 18:70)

Baik profesi kamu itu guru atau bukan, siapapun bakal bisa belajar dari ayat ini. Bahwa.. memang lebih baik bagi seorang guru memperingati dulu atas sesuatu yang nanti muridnya belum bisa nalar. Atas hal yang muridnya belum paham karena ilmunya belom sampe.

Lebih baik guru warning di awal. Tunggu aja dulu sampe akhir, sampe nantinya guru itu sendiri yang akan jelasin dan klarifikasi.

6. Bahwa, ada RAHASIA dalam Kehidupan Ini

Tentang perahu yang tiba-tiba dibolongi.. (QS. 18:71)
Tentang dinding yang tiba-tiba dibangun.. (QS. 18:77)
Tentang anak kecil yang tiba-tiba langsung dibunuh.. (QS. 18:74)

Seakan.. Allah sedang mengajarkan kita bahwa Dia punya rahasia tersembunyi di dalam kehidupan ini dan Dia tidak selalu menilai berdasarkan penampilan luar.

Terkadang kebijaksaan Allah itu tidak jelas bahkan di pandangan manusia-manusia pilihan-Nya. Individu terpilih bisa juga gak memahami hikmah ini. Bayangin aja.. sekelas Nabi dan Rasul kayak Musa aja bisa ga tau alasan tersembunyi di balik perbuatan khidr. Nabi ulul azmi aja bisa ga tau yang ghaib, laaah apalagi kita yang ga sholeh sholeh amat?

Ini nunjukkin bahwa siapapun yang judulnya ‘manusia’ gakkan bisa tau segalanya. Allah Yang Maha Kuasa mungkin mengajari beberapa dari hamba-Nya hal yang ga diketahui orang lain, sekalipun keliatannya mereka ga lebih baik dari manusia-manusia pilihan-Nya.

Kalau versinya kita.. mungkin pemulung, tukang sapu, tukang parkir, tukang ojek, atau orang-orang yang sering dipandang sebelah mata, boleh jadi mereka lebih disayang Allah daripada kita. Atas kesabaran mereka yang luas, atas keridhoaan mereka terhadap takdir yang seakan tidak pernah berpihak pada mereka. Saat melihat mereka, berpikir saja bahwa Allah punya rahasia yang begitu rapat disembunyikan dari mata hamba-hamba-Nya.. Semoga kita tak lagi mudah memandang orang rendah, karena boleh jadi.. mereka itu satu di antara kekasih-Nya.

7. SETAN bikin Idup MAKIN RIBET

… وَمَا أَنسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ….
dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk menceritakannya kecuali setan
(QS. 18:63)

Setan itu demen banget bikin kebaikan terasa lebih sulit, semata-mata biar ga kesampean. Biar ga kecapai dan kita jadi berhenti mengejar kebaikan. Setan suka sekali melemahkan kita, dengan mendatangkan masalah-masalah lain. Berharap manusia bisa berhenti ngelakuin itu, lelah dengan jalan ini, bosan dengan jalan ini, minimal dibikin lupa nyampein suatu kebaikan, kayak di cerita ayat ini.

8. NGASIH KESEMPATAN

Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu? Apakah untuk menenggelamkan penumpangnya?” Sungguh, kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar!” (QS. 18: 71)

Nabi Musa yang gagal bersabar lalu seketika khilaf dan meminta maaf,

Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku”.  (QS. 18: 73)

Dan akhirnya Khidr memberikan beliau kesempatan yang lain untuk mengikutinya. Seolah kita diajarkan.. bahwa seorang guru perlu memberi kesempatan sekalipun muridnya melakukan kesalahan. Kesempatan memperbaiki diri dan membenahi ulang kesabaran.

Jika melanggar sekali, harus kasih kesempatan yang kedua, sampai ketiga untuk memperbaiki kesalahannya.

9. Janganlah Berputus Asa

Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. 

Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).  (QS: 18:80-81)

Di ayat tentang kematian seorang anak kecil, yang hati ibunya pun pilu menangis kehilangan, seakan kita para orang tua diingatkan untuk tidak pernah berputus asa.

Jika tertimpa musibah –mungkin pada diri kita, pada perilaku anak, bahkan kematian anak / masalah serupa–, mungkin itu karena ada banyaknya kebaikan yang Allah sembunyikan untuk kita. Dan yang harus dikedepankan ialah kesabaran. Berkatalah:

Mungkin ada hikmah disini..
Mungkin ada suatu kebaikan yang tak bisa kulihat saat ini…
Mungkin ada sesuatu yang MahaCinta sembunyikan dariku…

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”

(QS: 2:286)

Mau dapet Quranic Letter secara personal langsung dari penulis ke Emailmu?

Yuk Gabung! 😎

Udah ada 1500+ Milenial Indonesia + Malaysia nih yang gabung! Masa iya kamu rela gak ikutan!

Jangan Shalih Sendirian. SHARE:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Yang Allah Lirik Dari Kamu

Sun Sep 4 , 2022
Ini adalah kisah tentang seorang yang tak terkenal di masanya.Seorang disabilitas yang selalu bersegera dalam belajar, bersemangat mendapat pengajaran, dan saking spesialnya…saking VIPnya…orang ini sampai […]