Kita akan belajar satu ayat yang bernuansa sedih, kecewa dan depresi. Mungkin selama ini kita udah bolak balik baca surahnya tapi gak pernah ngeposisiin diri kita di perasaannya alhasil jadi ga pernah ngambil pelajaran hidup yang relate.

Oke, mari kita mulai dengan satu pertanyaan:
apa yang normalnya akan kita lakukan kalau kita dikenal baik, agamis, ga pernah macem-macem, dari keluarga baik-baik, tapi suatu saat Allah memilih kita menjadi orang yang pulang-pulang ‘bawa bayi’??? Yang seketika itu heboh semua komunitas masjid, orang-orang, saudara, semua menghina dan menggunjing kita di depan umum? Berlomba melemparkan berbagai tuduhan secara kolektif tepat di depan wajah kita?

Gak kebayang!
Bener-bener gak kebayang.

Gaada seorang pun dari kita yang bisa bayangin, perihnya di kondisi ini. Diomongin dari belakang aja kita udah bikin annoyed. Apalagi di depan muka langsung?

Itu baru mental. Belum lagi fisik. Ngelahirin doang aja udah kebayang sakitnya, apalagi ditambah dengan kehausan, kelaparan, dan sendirian terasing… ditambah lagi rasa cemas dan gelisah yang mengkali-lipatkan rasa perihnya –karena pulang-pulang, hati bakal auto-panas di judge abis-abisan sama orang-orang–.
Duuh ngebayanginnya aja udah berat, gimana yang ngejalaninnya?

Dan inilah apa yang terjadi pada sesosok wanita yang kisahnya terabadikan dalam Al-Qur’an, Maryam salaamun ‘alaiha..

فَأَجَآءَهَا ٱلْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ ٱلنَّخْلَةِ قَالَتْ يَٰلَيْتَنِى مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسْيًا مَّنسِيًّا

Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma (di tempat perasingannya), dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak berarti, lagi dilupakan”.

Maryam: 23

Maryam. Seorang perempuan yang orang-orang tau banget dia terkenal gimana. Tau persis dia diasuh sama siapa. Yang pernah berada langsung di bawah pengawasannya nabi Zakaria.

Ditimpa ujian berlapis-lapis, hmm emang sih hidup kita gak pernah serumit Maryam. Tapi siapapun pasti bisa relate karena depresi itu rasa yang pernah teralami setiap manusia. Kadang.. Allah bikin suatu ujian terjadi pada diri orang lain –tanpa kita harus mengalaminya sendiri–, gak lain agar kita dapat membawa pulang hikmah. Semua kisah yang terdengar dan sampai ke telinga kita pada hari ini ditujukan buat pelajaran hidup kita.

Dan saat ujian harus mengampirinya, dia berkata:

… قَالَتْ يَٰلَيْتَنِى مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسْيًا مَّنسِيًّا “Aku mati aja bisa ngga?”

Orang yang lagi emosian kadang omongannya suka ga ke filter. Tapi secara logika yaaa masuk akal karena emang itu jalan keluar termudah dari realita yang akan seseorang hadapi. Gaada di Quran seseorang berharap mati, kecuali di sini. Di ucapannya Maryam. Saking ekstrimnya situasi yang akan Maryam hadapi, Allah rekam ucapannya di Quran. Ulama bilang kita ga boleh ngarep mati, iya tapi kalau Maryam ini situasi yang parah, ga masuk akal. Hinaan dan gunjingan yang bakal dia terima lebih buruk daripada kematian.

Yaa bayangin aja.. Seseorang dari keluarga gak terpandang aja masih bisa MALUUUU banget sama aib kayak gini, lalu berapa kali lipat malunya kalo ia dari KELUARGA TERPANDANG? Terpandang shalihnya karena pernah dirawat oleh seorang Nabi.. Maryam cemas banget… Maka di kondisi kek gini, beliau khawatir banget nggak bisa sabar. Jadilah dia berandai untuk bisa mati sebelum mengalami semua ini.

Untuk apa?

Agar ia menjadi seseorang yang tak berarti lagi. 🥀

نَسْيًا – Agar tak pernah dikenal sebagai ‘seorang Maryam’ dulunya.
Agar ia terlupakan
Agar ia tak pernah ada
ataupun dicari-cari keberadaannya..

مَّنسِيًّا – Dan di masa depan ia berharap dilupakan juga.
Berharap tak ada yang memikirkannya kelak..
diingat-ingat sosoknya oleh orang-orang..
Ibarat baju yang usang, ia ingin dirinya terbuang begitu saja tanpa diingat-ingat lagi.. 💔

Di sini ia berharap dirinya bukan siapa-siapa 🥀 walau kenyataannya pandangan publik telah terbalik. Ujian sangat membuat orang terheran-heran. Dulu mereka nganggepnya Maryam sosok yang bertakwa, kemudian mereka menduga Maryam sebagai seorang pelacur —karena ketidaktahuan mereka.

Ohya terkait kata يَٰلَيْتَنِى مِتُّ (Betapa baiknya aku mati) mungkin kita masih terngiang di kepala, “Ooohh boleh ya minta mati aja kalo ditimpa musibah berat?”

Jawabannya gak boleh!
Karena terkait ayat ada beberapa pendapat dari ulama:

#1 Maryam minta ini karena out of humiliation

Maryam berandai kek gini karena pure ngerasa maluuuu, takut dan tercela. Kurang lebih gaya statement-nya sama kek ayat terakhir surah an-naba, di mana orang-orang kafir tuh pesimis sama hisabnya:

Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”. (Q.S. An-Nabaa’: 40)

Jadi intinya di sini tuh bukan “Ya Allah matiin saya aja sekarang!” atau “Saya pengen saya mati aja deh sebelum ini” tapiii…

“Saya berharap saya gak pernah ‘harus’ ngambil tanggung jawab ini karena saya gak tahu apakah saya mampu menanggungnya”

🥀

#2 Yang Diminta Maryam Ini Beda

Ada ulama yang nyimpulin kalo kita boleh minta kematian jika khawatir gakkan mampu menghadapi fitnah yang menggoyahkan akidah dan agamanya. Kaya di ayat ini, beliau takut imannya ngga kuat buat ngadepin orang-orang julid secara langsung LIVE tatap muka sambil mencibir tepat di depan wajahnya. Kalopun harus ngejelasin panjang lebar, publik juga gakkan ada yang percaya sama cerita yang sebenarnya.

Oke jadi dari semua ini, ada beberapa hal yang bisa kita ambil:

SATU, Mentang-mentang ditimpa ujian (kadang juga ga berat-berat amat dibanding para nabi), seringnya kita kan langsung depresi yaa “Ya Allah matiin saya aja.” ➝ NAH ITU GAK BOLEH 🙅🏻‍♂️. Karena kita gak tau apa yang terbaik buat kita, apakah hidup atau mati. Gak ada nilai kebaikan atau kejahatan saat seseorang menginginkan kematian hanya karena ditimpa musibah karena seakan-akan kita gak terima dengan takdir Allah. 💔 Padahal Allah ngasih hambanya ujian gak lain biar kita naik kelas/derajat.

DUA. Apapun yang menimpa kita, sebenernya itu dah sesuai dengan takaran kemampuan kesabaran kita. Jadi kalo perhitungannya udah se-presisi itu dari Allah, tentu gak mungkin bikin kita overdosis. Gak usah takut ini bakal bikin kita gimana-gimana. Allah itu Dzat Yang Maha Tahu “dalem-dalemnya” diri kita. Kalo pikiran kita positif dan hati berprasangka baik sama Allah, ujian itu hanya akan mendewasakan kita. Biar kita engga secengeng dulu..

Why?
Karena kebaikan itu cuma akan terwujud dengan menghargai apa yang udah terjadi.
Buktinya, kesusahan Maryam ini langsung didengar Allah dan dijawab tepat di ayat setelahnya (24-26 surah Maryam) 🥺

Janganlah salah seorang di antara kalian berangan-angan untuk mati karena musibah yang menimpanya, Kalau memang harus berangan-angan, hendaknya dia mengatakan, “Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu baik untukku, dan matikanlah aku jika kematian ituu baik bagiku” (HR. Bukhori no.6351)

.

Gausah depresi..
Bukankah Allah bersama kita, baik di waktu lapang dan waktu sempit?

close

Mau dapet Personalized Quranic Reflection langsung dari penulis ke Emailmu?

Yuk Gabung! 😎

Udah ada 1000+ Milenial Indonesia + Malaysia nih yang gabung! Masa iya kamu rela gak ikutan!

Jangan Shalih Sendirian. SHARE:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Terbenam Dalam Salah Paham #AlInfithar

Sun Oct 17 , 2021
Banyak dari kita bingung, keliru, salah dalam memahami dan menyikapi sifat Allah yang satu ini. Ketika berbicara tentang Allah, banyak manusia tenggelam dalam gambaran Pemurah-Nya, […]