Pernah nggak sih, kamu baca terjemahan suatu ayat Qur’an terus muncul pikiran-pikiran negatif?

“Kok kaya gini sih?
“Kok Parah banget!”
“Kok Allah tega bikin hukum gini, gini dan gini?”

Kalau pernah, mungkin postingan ini bakal bisa bikin kamu relate banget. Dulu, aku pernah ngalamin waktu di mana pas baca suatu ayat Qur’an, langsung mikir negatif, berburuk sangka sama Allah dan hampirhampir nge-judge Qur’an. Duuuh serem banget kalo diinget 😖.. Tapi saat itu, pas nyari tau artinya secara lebih dalam, akhirnya jadi malu sendiri sama Allah.

Jadi… semua itu bermula dulu pas lagi explore-explore surah kontroversial. Yep! Surah At-Taubah. Saat itu aku lagi coba baca-baca artinya, then suddenly my eyes stopped at something.

I came accross an ayaah that almost mislead me..

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.

[At-Taubah: 19]

Tau nggak, selesai baca itu.. hal pertama yang langsung muncul dan turut dibenarkan syaitan adalah:
“Iisssshh kok Allah gak appreciative banget?
Orang yang ngasih minum ke orang-orang yang mengerjakan haji kan baik. Kok masih salah aja?

Tentunya prejudice ini berdasarkan kefakiran ilmuku dan luasnya ilmu Allah.

Saat itu, hati udah berapi-api.. Penasaran banget dan pengen buktiin, “Ini Islam yang salah apa gue yang salah?”
Dan bagusnya (karena nggak pengen juga tenggelam di lautan kebodohan diri sendiri) akhirnya langsung nyari-nyari makna dibalik ayat itu dengan baca tafsirnya, dan ternyataaaa ..

Wait-wait.. sebelum ngasih tau apa yang aku temuin, jadi gini.. Kapanpun kamu mengalami hal yang serupa, kamu perlu tahu kalau setiap ayat Qur’an itu punya:
1. Konteks (ayat sebelumnya dan ayat sesudahnya)
2. Asbabun nuzul (kejadian di bumi saat itu yang bikin ayat ini jadi turun)
3. Original language (bahasa Arab itu sendiri)
Kadang kita stuck di pemahaman negatif, karena baca terjemahannya aja. Entah yang bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris (bagi orang luar). Padahal di bahasa aslinya mah udah jelas banget mengarah kemana. Jadi jelaslah yang sering kita dapati misunderstanding.

So.. when I was hunting the story behind the ayaah, konteks ayat itu ternyata turun pas orang-orang musyrik bilang kalo memakmurkan Baitullah + memberi air minum buat orang-orang haji itu lebih baik daripada orang-orang yang beriman dan berjihad. Jadi mereka tuh terlalu ngebangga-banggain perbuatannya dan nganggep hal itu aja udah bikin mereka jauh lebih baik dan mulia daripada orang-orang beriman. Mereka ngerasa yaa.. mereka itu pemiliknya dan memakmurkan ini hal terbaik yang melebihi kedudukan orang beriman.

Setelah ada statement ituuu, sebagian musyrik dan sebagian muslim menjadi berselisih –yaa kurang lebih kek arus netizen zaman sekarang.😅 Terjadilah isu-isu perbedaan pandangan tentang mana yang sebenernya lebih utama. Akhirnya, TURUNLAH ayat ini sebagai jawaban dari Allah.

Selain suka membanggakan dirinya dengan tanah sucinya, orang-orang musyrik itu demen banget nge-julid-in Al Quran dan Rasulullah ï·º. Jadi di ayat ini Allah memaparkan secara gamblang kalau iman dan jihad jauh lebih baik karena amalan yang orang musyrik lakuin itu (sekalipun memakmurkan Baitullah) tidaklah bermanfaat karena mereka masih dalam keadaan musyrik.

Di sini kita jadi belajar.. kalau tanpa iman, Allah gak akan nerima amalan seseorang. 🥀 Mau ngelakuin jutaan bentuk kebaikan kek, kalau gak beriman, yaa turn to be useless. Kek debu. Bayangin aja, sekelas ngurus orang haji dan makmurin Baitullah, man!! Ini aja bisa engga kehitung di mata Allah karena tanpa disertai iman.

Jadi.. Iman itu pondasi agama! Bangunan apapun yang pake pondasi, pastinya akan tegak. Sama kaya ini. Dengan pondasi iman, amalan-amalan baik akan tegak dan diterima oleh Allah.

You know whaattttt???
That time when I knew this answer, OMG! I felt so so baaaddddd.. I was so heart-melted 😭. Pas tau, langsung auto-tobat dan istighfar atas segala prasangka buruk yang hanya berlandaskan pandangan yang cetek dan pengetahuan yang sempit. Betapa luasnya ilmu Allah… betapa kita yang gak tahu apa-apa sering mengkritik kebijaksanaan Allah 🤧, ayat-ayat Allah, bahkan aturan-aturan-Nya yang juga tertulis di Quran. 😖

Dan aku yakin aku bukan satu-satunya orang yang ngerasain ini. I realize that there are bunch of young people out there, yang pastinya pernah ngerasain, tapi sayangnya ketika mislead, mereka memanjakan mislead-nya itu dan akhirnya.. kritiknya lambat laun menggendongnya kepada kemusyrikan pelan-pelan. Wal’iyyadzubillah.

Satu pelajaran dari momen ini yang sama-sama bisa kita ambil dari pengalaman ini adalah.. jangan pernah berburuk sangka dulu pada apapun yang kamu temui di Al Quran. Kapanpun perasaan itu dateng, buru-buru cari tahu ayat di balik itu. Lihat konteks, asbabun nuzul, original language, dan bertanyalah pada orang yang beneran berilmu. Apapun hal buruk yang terbesit di hati, percaya deeh.. Semua ini gak lain datangnya dari akal+pandangan+ilmu kita yang terbatas dan ..

Banyaknya setan yang saling bergantian, terus menerus, untuk membuat dirimu jauh dari Allah…

close

Mau dapet Personalized Quranic Reflection langsung dari penulis ke Emailmu?

Yuk Gabung! 😎

Udah ada 500+ Milenial seluruh Indonesia + Malaysia nih yang gabung! Masa iya kamu rela gak ikutan!

Jangan Shalih Sendirian. SHARE:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Yang Bikin Melting dari Sosok Rasulullah ï·º

Wed Apr 7 , 2021
Tak kenal maka tak cinta. Sebaliknya kalau kenal, pasti cinta. Mungkin ini penyebab terbesar yang sering bikin kita ‘heartless‘ dan ‘clueless‘ kalau denger nama Rasulullah […]