Ketika kita menghadapi apa yang kita takutkan,
Ketika kita putus asa mengejar apa yang kita inginkan,
Di sinilah hubungan kita dengan Allah benar-benar akan diuji..

Ketika kita merasa tak akan pernah mendapatkan apa yang kita ingin-inginkan, kita putus asa dan berhenti meminta pada Allah.
Ketika kita dalam kesulitan dan berpikir bahwa penderitaan ini tak akan pernah diangkat, kita mencukupkan diri dari memohon pada Allah.

Dan kemudian setan pun tersenyum, mengambil kesempatan emas ini untuk memanas-manasi hati, yang akhirnya membenarkan perasaan untuk berhenti memohon. Pelan-pelan ia menggiring kita untuk berprasangka buruk pada Allah, pelan-pelan ia mengurangi semangat ibadah kita. Pelan-pelan ia membuat sholat menjadi hambar tak ada gunanya, dan ketaatan menjadi kepahitan.

Siapa yang dalam kondisi ini terus menerus memohon dan tetap berdo’a?

Hanyalah mereka yang berbaik sangka kepada Allah SWT.

Apa makna berbaik sangka pada Allah sebenarnya?

Seringkali ia berhenti pada anggapan, ‘yaa.. kan Allah Maha Penyayang’ udah sampai situ. Ini aja gak cukup! Hal pertama ketika berbaik sangka pada Allah, menurut Syekh Salih Al Maghamsi, ialah mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Baru kemudian kita mengetahui bahwa Allah Maha Penyayang..

Karena ketika kita diuji, banyak orang-orang di sekitar kita yang terlihat sangat-sangat menyayangi kita tapi mereka tetap gak bisa bantu apa-apa.. Berarti masalahnya, bukan di mereka yang gak sayang, kan? Mereka cuma gak bisa bantu aja, gak bisa mengangkat apa yang kita derita..

Maka kunci berbaik sangka pada Allah, ialah mengetahui bahwa tak ada satupun, baik di langit maupun di bumi, yang dapat melampaui kekuatan/kekuasaaan Allah.. Ikatlah erat-erat kebenaran pelajaran ini di dalam hati kita karena ia takkan pernah kita temui di buku-buku, diajarkan di sekolah atau pelatihan, dsb. Pelajaran ini hanya ada di Al Quran.

Dalam surah Al Baqarah ayat 259, Allah membuktikan bagaimana Maha Kuasa-Nya atas keraguan seseorang yang sedang melewati suatu negeri yang telah hancur berantakkan, bangunannya roboh, para penduduknya telah meninggal..

… Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari”. Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal seratus tahun. Lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu [yang telah bercerai-berai tulangnya]; Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging”. Maka tatkala telah nyata kepadanya [bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati jelas di depan matanya] diapun berkata: “Saya mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

AL-Baqarah: 259

Meal isn’t time-friendly, dengan kata lain, makanan pasti cepat busuk. Namun lewat kisah Uzair ini, Allah membuktikan bagaimana Dia dapat MENJAGA makanan tanpa berubah warna dan rasa sedikitpun walau telah berlalu SATU ABAD lamanya. Seketika ia telah menyaksikan semuanya secara nyata dan sempurna di depan matanya, dia menjadi mantap hati, yakin dan bersaksi atas besarnya Kekuasaan Allah untuk merubah segala sesuatu.

Cukuplah bagi kita, kisah ini menjadi sebaik-baik keyakinan, bahwa takkan ada doa’-do’a yang terlempar di udara useless. Allah Maha Kuasa, mudah sekali bagi-Nya merubah apapun persis yang kita mau, bahkan ditambah dengan kondisi yang jauh lebih baik lagi diluar ekpektasi kita.
Hanya saja, hal utama yang perlu kita punya ialah berbaik sangka. Menanamkan attitude and manner to Allah.

Janganlah salah satu diantara kalian meninggal, kecuali dia telah berprasangka baik terhadap Allah.

(HR. Muslim no. 5125)

A Small Reflection

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

An-Nahl: 78

We were fragile
We were in condition where our sights were blur
We were in condition of not knowing anything,
not even know how to express our mind
Kita pernah ada di kondisi sepenuhnya bersandar pada-Nya
lewat tangan-tangan yang Ia takdirkan merawat
Berpasrah diri dan tak pernah berprasangka keji
Kita selalu membuka mulut atas apapun yang diberi
Walaupun bisa saja diri ini disuapi racun
Tapi kala itu, seutuhnya kita pernah bertawakkal pada Allah

Kita pernah ada di kondisi hanya bisa menangis
Tak ada usaha lain, hanya 1 kemampuan yang dititipkan. Menangis
Tapi kala itu, tidak pernah sedikitpun kita membenci Allah
Kita tidak pernah sedikitpun berprasangka buruk pada Allah
atau mengkhawatirkan apa yang Allah gariskan esok
Sebersih itu kita pernah mempunyai hati
Sampai pada akhirnya kita bisa tumbuh besar
Dan mencapai kesempurnaan akal..

Lambat laun,
Ketika tumbuh besar,
kita banyak mendikte Allah
akan hidup yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita.
Akan hidup yang kadar kebahagiaannya tak pernah nampak sama dengan wajah-wajah orang lain..
Kita sering meragukan takdir Allah
Bahkan seenaknya melupakan semua nikmat yang mengantar kita
sampai di usia ini..

Wahai jiwa-jiwa yang pernah bersandar seutuhnya pada Allah..
Tanyakan pada dirimu
Kemana memori-memori itu

Mengapa ia tak berbekas pada imanmu saat ini ?

Jangan Shalih Sendirian. SHARE:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Kenapa Bisa Gak Dapet Hidayah?

Sat Jul 18 , 2020
Kok bapaknya saleh, anaknya kaya gitu?Kok belajar di sekolah islam, kelakuannya kaya gitu?Kok sering ngaji, omongannya kaya gitu?Kok..Kok.. Maka kali ini, kita berbicara tentang hidayah. […]