Dalam hidup, kita sering ngejadiin rezeki sebagai tujuan,
padahal rezeki tu cuma alat.

Ar-Razzaq ngasih kita rezeki, sebenarnya bukan agar kita mencintai rezekinya,
tapi supaya kita mengenal dan mencintai Dia melalui rezeki itu.

Tapi entah sejak kapan,
alat ini jadi lebih kita sayangi daripada Sang Pemberinya.

Mungkin pagi ini, ada di antara kita yang bangun dengan dada yang udah terasa sesak
bahkan sebelum kaki menyentuh lantai.
Pikiran langsung berputar-putar di tagihan, target dan kekhawatiran:

Uangku cukup nggaa yaaaa bulan ini?”
“Project itu gimana?”
“Kalau ini gagal, gimanaaaaaa?”

Padahal nafas pertama yang kita hirup pagi ini adalah rezeki.
Dibangunkannya kembali kita pagi ini adalah rezeki.
Bisa membuka dua hadiah pagi ini—yaitu kedua mata kita—adalah rezeki.

Semua itu datang tanpa kita minta, beli, ataupun bayar.
Tapi yang kita lakukan adalah menghirupnya, melihat dengannya, dan langsung memikirkan yang lain. We take it for granted. Tak ada ruang memikirkan, bahkan berterima kasih pada Sang Pemberi Hadiah.

Seperti anak kecil yang kegirangan dengan pemberian ayahnya. Dengan mainan itu, ia sangat tersibukkan. Sampai lupa bilang terima kasih, lupa menatap wajah ayahnya. Ia lupa bahwa yang ia rindukan sebenarnya bukan mainan itu, tapi pelukan sang ayah.

Begitulah kita.
Kita yang terlalu sibuk dengan dunia,
sampai lupa dengan siapa yang menaruh dunia di hadapan kita.

Yang paling menyedihkannya itu bukan ketika kita mengejar dunia
tapi ketika kita mengejarnya sambil melupakan siapa yang menghantarkannya di depan mata kita.

Ar Razzaq pernah ngingetin kita:

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا
“Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan Allah-lah yang menanggung rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Perhatiin diksinya. ” عَلَى ٱللَّهِ ” (menanggung). Allah di sini ngga bilang, “memberi” atau “memberi dengan adanya jutaan syarat”. Engga. Tapi “Menanggung”… Seolah-olah bilangnya, “Relax! It’s all ON ME”…. “Udah tanggung jawab Aku”…. Di dunia, kata ini seperti gambaran adanya ultra wealthy people yang beres menanggung semua utang, tagihan dan kebutuhan kita sampe mati.

Coba sesekali, pagi ini kita dekati tanaman di luar rumah. Gali tanahnya. Lihatlah cacing di dalam nya. Mereka ga punya rencana. Ga punya tabungan. Ga punya networking. Mereka hanya bergerak, tapi ia makan.

Sekarang lihatlah ke atas. Burung yang berterbangan. Mereka itu nggak nyimpen saham. Nggak ada deposito. Tapi mereka kenyang tiap sore kembali ke sarang.

Lalu kamu—yang punya akal, iman, dan lisan untuk berdoa
masih takut nggak kebagian?

Ingat! Rezeki itu bisa habis, tapi Ar-Razzaq takkan pernah habis.
Karunia-Nya itu sungguh sangat tak terbatas….

Mungkin selama ini…. bukan cara yang salah dalam mencari rezeki. Kita hanya salah dalam menaruh hati.

Kita kejar pernak pernik dunia dengan kedua tangan kita, sambil membiarkan ia masuk ke dalam dada dan menggeser tempat yang seharusnya hanya untuk Allah.

Coba jujur ke diri sendiri, apakah benar kita salah dalam menaruh hati:

  • Apakah hatiku lebih tenang saat gajian? atau saat selesai sholat?
  • Apakah aku lebih khawatir kehilangan pekerjaan? atau kehilangan kedekatan dengan Allah?
  • Apakah aku lebih semangat ngejar uang? atau ngejar pahala?
  • Apakah saat rezeki datang, aku lupa bersyukur….
    dan ketika rezeki seret, aku auto panik dan menyalahkan keadaan?
  • Apakah aku lebih banyak memikirkan “bagaimana caraku mendapat lebih”,
    ataukah memikirkan “apakah yang kumiliki sudah kupergunakan di jalan-Nya”?

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Talaq: 3)

Dari ayat itu, Allah mengajak kita untuk merindukan Dzatnya. Bukan merindukan rezeki-Nya.

Semoga hati kita kembali rindu pada Sang Pemberi,
bukan hanya pada pemberian-Nya.

Bekerja keraslah karena percaya bahwa Allah Pemberi Rezeki,

bukan karena takut, Allah saja tidak cukup
untuk memenuhi rezeki.

Mau dapet Quranic Letter secara personal langsung dari penulis ke Emailmu?

Yuk Gabung! 😎

Udah ada 1500+ Milenial Indonesia + Malaysia nih yang gabung! Masa iya kamu rela gak ikutan!

Jangan Shalih Sendirian. SHARE:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *